Selasa, 01 Mei 2012

Bahasa Adalah Alat


Seorang bayi perempuan usia 10 bulan, anggap saja namanya Neneng sedang duduk di kereta bayi bersama emak nya. Tiba-tiba melintaslah seorang tukang balon. Neneng melihat balon itu dan ia merasakan indah, lalu timbul keinginan untuk memiliki balon tersebut. Perasaan dan kebutuhan tersebut berkecamuk dalam diri nya, ia ingin menyampaikan perasaan dan  kebutuha tersebut kepada mama nya, dia membutuhkan alat yaitu bahasa tapi saat  itu  dia  belum  punya.  Terus  bagaimana?  ..ya  tidak  ada  cara  lain  kecuali  dia pake  alat pamungkas yaitu MENANGIS neneng langsung menangis keras sambil menunjuk tukang balon ..ups maaf, menunjuk balon tersebut. Betul, menangis adalah alat komunikasi seorang bayi

Seminggu berlalu ... Neneng kini memiliki kata pertama yaitu EMAK Minggu kedua .. Neneng memiliki kata berikutnya yaitu BALON

Pada suatu sore ketika tengah belajar berjalan dengan emaknya, melintaslah kembali seorang tukang balon yang sama. Apakah Neneng masih perlu berkomunikasi dengan “menangis” ??  No way, dia sekarang sudah memiliki alat untuk mengkomunikasi kan hal tersebut yaitu Bahasa

Dengan santai, neneng menunjuk balon sambil berkata, emak ..balon ..balon .. Begitu mudah, begitu santai, tanpa perlu mengeluarkan tenaga, tanpa perlu mengeluarkan airmata. Neneng dapat menyampaikan perasaan (feeling) dan kebutuhan nya (needs) dengan menggunakan Bahasa

N.B:
Seharusnya begitulah anda belajar Bahasa Inggris, dari awal anda gunakan seperti halnya si Neneng padahal baru 2 (dua) kata tapi langsung digunakan sebagaimana fungsinya

Coba kita hening sejenak yuk ..saya minta anda hening sehening mungkin, dan bertanya kepada diri anda sendiri

...sudah berapa kata Bahasa Inggris kah yang anda milliki saat membaca ebook ini? hanya 2 (dua) kata kah seperti si Neneng? ...

Jawab dengan jujur? saya yakin jawaban Anda sebagian besar lebih dari 30 kata. Lantas kenapa tidak  anda  gunakan  sejak  dini?  bukankah  bahasa  adalah  alat   kenapa  anda  tidak  gunakan semestinya yaitu sebagai alat komunikasi. Malu dong sama Neneng ..hehe

Atau mungkin anda ingin membela diri dengan mengatakan, begini Mr.Teguh, saya seorang pemain valas,  dan  saya  hanya  akan  mengeluarkan  nya  saat  harga  naik?  ..oh  saya  memang  sengaja mendeposito kan semua kata-kata tersebut

Sudahlah, akui saja KESALAHAN TERBESAR yang dimiliki oleh hampir semua orang yang belajar Bahasa Inggris yaitu ..tidak menggunakan nya sebagai alat ...

Kamis, 26 April 2012

9 Tips Suami Terbaik


1. Hendaklah seorang suami senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dalam mempergauli dan memperlakukan istrinya. Karena ia adalah amanah yang akan dipertanyakan oleh Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perlakukanlah wanita-wanita itu dengan baik”. (Muttafaq ‘alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berbuat zhalim terhadap wanita. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku akan menjadi penghalang (orang yang menzhalimi) hak dua golongan yang lemah, yakni: Anak yatim dan wanita.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).
2. Hendaklah seorang suami memiliki perangai dan tabiat yang mulia. Janganlah ia mencaci istrinya, menjelek-jelekkannya, dan mendiamkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah seorang mu’min membenci seorang mu’minah, jika ia tidak menyukai suatu perangai nya, maka ia akan menyukai perangai yang lain dari dirinya.” (HR. Muslim).
3. Hendaklah seorang suami banyak bersabar dan baik dalam bermu’amalah dengan istrinya. Maka sebaik-baik kalian adalah yang menjaga persahabatan dan kasih sayang! Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian kepada keluargaku“. (HR. Ibnu Majah)
4. Hendaklah seorang suami memiliki kecemburuan terhadap istrinya, tetapi tidak berlebihan, sehingga berburuk sangka kepadanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kalian merasa kagum/heran dengan ghirah (rasa cemburu)nya Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu darinya, dan Allah lebih cemburu dariku.” (HR.Muslim).
5. Hendaklah seorang suami bersikap lemah lembut dan bijaksana dalam menyikapi kesalahan dan kekeliruan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi indah, dan tidaklah kelembutan itu hilang dari sesuatu, melainkan ia akan memperbu-ruknya.” (HR. Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha lembut, Dia menyukai kelembutan di dalam semua perkara.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
6. Hendaklah seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya dengan ma’ruf (layak). Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra’: 29)
(maksudnya: tidak kurang dan tidak berlebihan, pent.)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, apa hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami? Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Kamu memberi makan kepadanya, jika kamu makan. Dan kamu memberi pakaian untuknya, jika kamu memakai pakaian. Dan janganlah kamu memukul wajah, menjelek-jelekkannya, dan jangan pula kamu mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
7. Hendaklah seorang suami mempelajari fiqih kewanitaan sehingga ia mengetahui cara menggauli istrinya saat haidh dan nifas, dan hendaklah ia mengajarkan kepada istrinya tentang masalah tersebut, jika ia belum mengetahuinya.
8. Hendaklah seorang suami mengerti, bahwasannya tidak boleh baginya berhubungan (bersetubuh) dengan istrinya waktu haidh, dan tidak pula pada duburnya. Dan dibolehkan baginya untuk bermesra-mesraan dengannya waktu haidh, kecuali melakukan jima’ (bersetubuh), karena hal tersebut diharamkan. Allah subhanahu wata’ala berfirman,artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:”Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesung guhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagai mana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah ahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 222-223)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah subhanahu wata’ala tidak memandang seorang lelaki yang menggauli lelaki lain atau seorang wanita melalui dubur“. (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).
Di antara etika melakukan jima’: Memulai dengan basmalah (membaca bismillah dan berdo’a), bersenda gurau, berpelukan, mencium sebelum melakukannya. Karena hal itu lebih dapat memberikan kepuasan bagi suami dan istri. Dan jika seorang suami telah selesai menunaikan hajatnya, maka hendaklah ia tidak tergesa-gesa (menyudahinya), sampai sang istri mendapatkan haknya. Dan barangsiapa yang ingin mengulanginya (jima’), maka hendaklah ia membasuh kemaluannya, lalu berwudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, yang artinya, “Jika salah seorang di antara kalian akan menyetubuhi istrinya mengucapkan (berdoa), “Dengan nama Allah, Ya Allah! Jauhkan kami dari setan, dan jauhkan setan untuk mengganggu apa yang Engkau rezekikan kepada kami. Maka niscaya setan tidak akan mencelakakan anak (hasil) dari keduanya selama-lamanya.“(Muttafaq ‘alaih). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian menyetubuhi istrinya, kemudian hendak mengulangi, maka hendaklah ia berwudhu.” (HR. Muslim)
9. Hendaklah seorang suami menjauhkan diri dari menyebarkanluaskan rahasia-rahasia hubungan suami-istri. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah subhanahu wata’ala pada hari Kiamat adalah seorang suami yang menggauli istrinya, dan istrinya menggaulinya, kemudian ia sebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim).
Suatu ketika dikatakan kepada sebagian orang-orang shalih yang ingin menceraikan istrinya, “Apa yang membuatmu ragu kepada istrimu?” Lalu ia menjawab, “Orang yang berakal tak akan membuka rahasia.” Maka tatkala ia telah menceraikannya, ia pun kembali ditanya, “Mengapa kamu menceraikannya?”. Lalu ia pun menja-wab, “Apa urusanku/ hakku dengan istri orang lain?”
Mudah-mudahan Tips di atas dapat menjadi nasihat berharga untuk para suami dan para calon suami yang ingin menjadi idaman para istri. Dan semoga Allah subhanahu wata’alasenantiasa memberi kan taufiq-Nya kepada kita semua.

Meninggalkan Shalat



Salah satu rukun Islam yang wajib dijaga dan dipelihara setiap saat, jangan sampai terlewat apalagi ditinggalkan adalah mengerjakan shalat wajib lima kali dalam sehari semalam dengan waktu-waktu yang telah ditentukan.

Inilah Islam, seperti yang Rasulullah SAW jawab saat ditanya oleh malaikat Jibril, ''Apa itu Islam?'' Beliau menjawab, ''Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dan berhaji ke Baitullah.'' (HR Bukhari-Muslim).

Shalat adalah aktivitas rutin yang harus dilakukan, berbeda halnya dengan rukun-rukun Islam lainnya, seperti bersyahadat, puasa, zakat, dan haji, yang intensitasnya kalah banyak dibanding shalat. Salah satu tujuan shalat adalah sarana untuk mengingat Allah SWT pada saat orang lelap dengan kesibukan duniawinya. ''Dirikanlah shalat sebagai sarana mengingat-Ku.'' (QS Thaha (20): 14).

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa shalat menjadi identitas orang beriman. ''Seseorang yang meninggalkan shalatnya, ia akan menempati posisi antara syirik atau kufur.'' (HR Muslim dari Abu Sufyan dan Jabir bin Abdullah). Saat ini, banyak orang yang mengaku beriman dan berislam, tetapi kerapkali melalaikan, bahkan sampai meninggalkan shalat. Allah SWT berfirman, ''Sungguh celaka orang-orang yang shalat. Yakni, mereka yang kerapkali melalaikannya.'' (QS Al-Ma'un (107): 4-5).

Ayat ini menegaskan bahwa melalaikan shalat saja sudah termasuk golongan orang-orang yang celaka, apalagi sampai tidak melakukannya atau meninggalkannya. Menurut bahasa, shalat, memang berarti doa. Tetapi, menurut istilah, merujuk pada praktik atau sunnah fi'liyah Rasulullah SAW, shalat diartikan sebagai ritual ibadah yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam sesuai dengan ketentuan dan tuntunan yang telah Rasulullah SAW contohkan.

''Shalatlah kalian seperti halnya kalian melihatku mempraktikkan shalat.'' (HR Bukhari-Muslim). Orang-orang yang mencukupkan diri hanya berdoa sebagai sama telah melakukan shalat, maka mereka sebetulnya, telah meninggalkan tuntunan Rasulullah SAW.

Mereka telah meninggalkan shalat. Orang-orang seperti ini, oleh agama, diimbau untuk segera menyadari kekeliruannya dan kembali berpegang teguh pada tuntunan Rasulullah SAW. Shalat merupakan salah satu tiang penyangga bangunan agama Islam.
Jika tiang itu roboh, maka tidak ada yang akan menopangnya. Akibatnya, bangunan itu akan runtuh. Islam akan runtuh dalam dirinya. Rasulullah SAW bersabda, ''Sesungguhnya, Islam itu dibangun dengan lima pilar. Yakni, syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.'' (HR Bukhari-Muslim).